JS

Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 02 Juli 2013

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN SELF-EFFICACY PADA SISWA-SISWI SMUN 62 DI JAKARTA TIMUR BAB 3

BAB III
METODE PENELITIAN

            Dalam Bab ini akan dibahas tentang identifikasi variabel-variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, populasi dan metode pengambilan sampel, metode pengumpulan data dan metode analisis data.

A.    Identifikasi Variabel Penelitian
         Variabel penelitian dinyatakan sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti, dalam penelitian ini yang menjadi variabel penelitian ada dua yaitu :
1. Variabel Terikat         : Self Efficacy (Y)
2. Variabel bebas            :  Pola Asuh Orang Tua (X)
                                                                          
B.     Definisi Operasional
   Definisi operasional dari penelitian ini adalah :
1.   Self-Efficacy adalah sejauhmana pengharapan yang memusatkan kepada kepercayaan terhadap kemampuan individu untuk mengatur dan meminimalkan tingkah laku yang tidak mendukung untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Diukur dengan menggunakan skala self-efficacy, meliputi faktor-faktor yaitu : tingkat kesulitan tugas (level), kemantapan keyakinan (strength) dan luas bidang perilaku (generality).
2.   Pola Asuh Orang Tua adalah adalah sikap orang tua dalam berhubungan atau berinteraksi dengan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dilihat melalui cara orang tua mengontrol dan mengawasi tuntutan terhadap tingkah laku, cara berkomunikasi serta sikap pemeliharaan orang tua kepada anaknya. Yang diukur dengan menggunakan skala pola asuh orang tua, meliputi tehnik-tehniknya yaitu : pola asuh ototoriter (Authoritarian), pola asuh otoritatif (Autoritatif) dan pola asuh permisif (permissive).

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
1.   Populasi
            Subyek penelitian merupakan hal yang penting yang harus ditentukan sebelum kegiatan penelitian dilakukan. Di dalam menentukan subyek penelitian, hal yang harus diperhatikan adalah populasi penelitian. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2003 : 55). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMUN X di Jakarta , yang berjumlah 185 siswa. Berikut ini merupakan tabel populasi siswa kelas X SMUN X di Jakarta :




TABEL 1
Populasi siswa kelas X SMUN X di Jakarta 
Kelas
Populasi
Sampel
X-1
32 Siswa
22 Siswa
X-2
31 Siswa
21 Siswa
X-3
28 Siswa
19 Siswa
X-4
31 Siswa
21 Siswa
X-5
30 Siswa
21 Siswa
X-6
33 Siswa
23 Siswa
JUMLAH
185 Siswa
127 Siswa

2.   Metode Pengambilan Sampel
Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2003 : 56). Sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar representative (mewakili). Berdasarkan Tabel Morgan untuk populasi sebesar 185 maka yang digunakan sebagai sampel adalah berjumlah 127. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik proportional random sampling yaitu suatu cara dalam pengambilan sampel dimana besar kecilnya sub populasi dan individu-individu yang ditugaskan dalam tiap-tiap sub populasi diambil secara random dari sub populasi (Sutrisno Hadi, 2000 : 82).
Pemilihan subjek akan dijadikan sampel dengan metode proportional random sampling adalah melalui tehnik undian. Perincian pemilihan tehnik sampel adalah sebagai berikut :
a.       Buat daftar yang berisi semua daftar siswa.
b.      Beri kode nomor urut pada masing-masing dalam selembar kertas kecil.
c.       Menuliskan kode masing-masing dalam selembar kertas kecil.
d.      Kertas digulung dan dimasukkan kedalam kaleng.
e.       Mengocok kaleng itu dan mengambil satu sampai jumlah yang diperlukan tercapai.

D.    Metode Pengumpulan Data
            Untuk memperoleh data penelitian ini akan digunakan skala. Skala adalah suatu jenis alat pengumpul data yang disampaikan kepada responden atau subyek penelitian melalui sejumlah pernyataan tertulis. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini peneliti menggunakan skala dalam bentuk pernyataan sikap yang diperoleh individu berdasarkan penilaian terhadap skala. Bentuk yang digunakan dalam membuat pernyataan pada penelitian ini adalah skala likert.
Menurut Saifuddin Azwar (2004 : 4) skala memiliki karakteristik sebagai berikut :
1)   Stimulus berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.
2)   Jawaban subyek merupakan sebagian dari banyak indikasi mengenai atribut yang diukur, sedangkan kesimpulan akhir sebagai diagnosis baru dapat dicapai bila semua item telah direspon.
3)   Respon subyek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban benar-salah. Semua jawaban dapat diterima sejauh dijawab dengan jujur dan sungguh-sungguh. Hanya saja jawaban yang berbeda akan di interpretasikan berbeda.
Skala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skala Likert, yaitu skala yang memiliki skor, dari angka satu sampai dengan lima. Dengan alternatif jawaban dari lima pilihan, yang terdiri dari jawaban sangat sesuai (SS), sesuai (S), netral (N), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun skala ini pertama-tama penulis membuat pernyataan-pernyataan sesuai dengan indikator-indikator yang ditentukan dalam blue print. Pernyataan dibuat berdasarkan derajat Favorable dan Unfavorable. Dalam proporsi jumlah pertanyaan yang sama antara Favorable dan Unfavorable. Dimana derajat favorable adalah pernyataan-pernyataan yang mendukung indikator, sedangkan derajat unfavorable adalah pernyataan-pernyataan yang tidak mendukung indikator. Cara penilaian butir skala adalah sebagai berikut :
TABEL 2
TEKNIK PENILAIAN JAWABAN YANG DIBERIKAN SUBYEK
Alternatif Jawaban
Favorable
Unfavorable
Sangat Sesuai (SS)
5
1
Sesuai (S)
4
2
Netral (N)
3
3
Tidak Sesuai (TS)
2
4
Sangat Tidak Sesuai (STS)
1
5


           
.
Skala yang dibuat dalam penelitian ini terdiri dari dua macam yaitu skala self-eficacy dan pola asuh orang tua.
1)   Skala Self-Efficacy
Skala self-efficacy ini berdasarkan pada konsep teori yang dikemukakan oleh Bandura (1997 : 9), yaitu : tingkat kesulitan tugas (level), kemantapan keyakinan (strength) dan luas bidang perilaku (generality). Setiap faktor kemudian dikembangkan menjadi indikator-indikator yang dituangkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan baik favorable maupun unfavorable seperti blue print di bawah ini :
TABEL 3
Blue Print Skala Self-Efficacy
Distribusi Penyebaran Item Skala Self-Efficacy
No
Faktor
Indikator
Fav
Unfav
Jumlah
1
Tingkat kesulitan tugas (level)
a. Mampu menyelesaikan tugas yang sederhana



b. Mampu melakukan tugas yang sulit



2
Kemantapan keyakinan (strength)

a. Optimis pada diri sendiri



b. Mampu bertahan dalam menghadapi tantangan



3
Luas bidang perilaku (generality)
a. Mampu mengatasi situasi yang spesifik



b. Mampu melakukan kegiatan yang beragam



Jumlah




2)   Skala Pola Asuh Orang Tua
Skala pola asuh orang tua ini berdasarkan pada konsep teori yang dikemukakan oleh Baumrind (dalam Santrock, 2003 : 185) yaitu : pola asuh otoriter (Authoritarian), pola asuh Otoritatif (Autoritatif) dan pola asuh permisif (permissive). Setiap faktor kemudian dikembangkan menjadi indikator-indikator yang dituangkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan baik favorable maupun unfavorable seperti blue print di bawah ini :           
TABEL 4
Blue Print Skala Pola Asuh Orang Tua
Distribusi Penyebaran Item Skala Pola Asuh Orang Tua
No
Faktor
Indikator
Fav
Unfav
Jmlh
1
Pola asuh otoriter (Authoritarian)
a.  Membuat batasan yang tegas
1,3
2, 4
4
b. Memaksakan kehendak
5, 7
6, 8
4
c. Bersifat menghukum
9, 11
10, 12
4
d. Melakukan sedikit komunikasi verbal
13, 15
14, 16
4
2
Pola asuh otoritatif (Autoritatif)

a. Adanya kebebasan dengan pengendalian



b. Komunikasi verbal berlangsung secara timbal balik



c. Bersikap hangat


d. Bersifat membesarkan hati anak


3
Pola asuh permisif (permissive)
a. Orang tua sangat tidak ikut campur dalam kehidupan anak


b. Aspek kehidupan orang tua lebih penting daripada anak


c. Cukup hangat



d. Sedikit sekali menuntut



e. Sedikit sekali mengendalikan



f. Mengizinkan melakukan yang diinginkan



Jumlah




E.     Metode Analisis Instrumen Penelitian
1.   Validitas
a.       Validitas Butir
Validitas Butir adalah pengujian terhadap kualitas butir. Dasar kerja validitas butir adalah memilih butir yang fungsi ukurnya selaras dengan fungsi ukur tes yang dikehendaki (Saifuddin Azwar, 2004 : 59).  Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen yang digunakan dalam penelitian dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono, 2003 : 267). Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Instrumen yang memiliki validitas internal atau rasional, bila kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional telah mencerminkan apa yang diukur. Sedangkan instrumen yang mempunyai validitas eksternal bila kriteria di dalam instrumen disusun berdasarkan luar atau fakta-fakta empiris yang ada (Sugiyono, 2003 : 270). Validitas butir diupayakan agar pembuat instrumen untuk memilih butir yang memiliki reliabilitas internal tinggi. Berarti bahwa validitas butir merupakan prosedur untuk membuang atau mengganti butir yang akan menurunkan reliabilitas internalnya.
Untuk meneliti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam menjalankan fungsi ukurnya, maka telah dilakukan ujicoba pada tiap-tiap item instrumen yang akan disajikan dalam penelitian. Pengujian ini dilakukan dengan cara menghitung Alpha Cronbach tiap faktor dan dibandingkan dengan Alpha if item deleted. Jika nilai Alpha if item deleted lebih kecil dari Alpha tiap faktor maka item dinyatakan valid. Perhitungan rumus Alpha dibantu dengan menggunakan program SPSS versi 15.0 for windows.
2.   Reliabilitas
   Instrumen yang reliabel berarti instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2003 : 267). Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya pasti reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan. Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen (Sugiyono, 2003 : 273).
   Untuk mengetahui reliabilitas dari suatu faktor maka dapat digunakan teknik Alpha Cronbach, dengan rumus sebagai berikut:
RUMUS II:
  k               ∑S2I
α =             1 -
         k-1               S2i
Keterangan:
α  = Koefisien reliabilitas Alpha
k  = Banyaknya belahan tes
S2I= Jumlah varians skor total
S2i = Jumlah varians responden untuk aitem ke-1
            Pada penelitian ini penerapan teknik Alpha Cronbach dibantu dengan menggunakan program SPSS 15.0 for windows.

F.   Metode Analisis Data
Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara pola asuh orang tua dengan self-efficacy pada siswa-siswi SMUN X di Jakarta digunakan analisis korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan program SPSS versi 15.0 for windows.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://isroi.files.wordpress.com/2010/01/chicken-egg.gif%3Fw%3D468&imgrefurl=http://www.jualcdsoftware.com/2011/11/cara-pasang-animasi-lucu-pada-blog.html&usg=__pffPdWlC4BLeIxRZKT3efI3QZhc=&h=200&w=250&sz=16&hl=id&start=17&sig2=lK53suQGqNLsKL51AuVHUw&zoom=1&tbnid=dl58wn7gc0YGOM:&tbnh=89&tbnw=111&ei=0QLTUeTEJMa8rAf8pYCQAQ&itbs=1&sa=X&ved=0CEoQrQMwEA